Rabu, 14 Desember 2016

Howard Schultz, Sosok di Balik Kesuksesan Starbucks

Howard Schultz, Sosok di Balik Kesuksesan Starbucks



Apa yang akan Anda lakukan jika ide Anda ditolak dan dilecehkan? Menyerah? Atau malah makin bergairah? Jika pilihan terakhir ini yang Anda lakukan, barangkali suatu keajaiban bisa terjadi pada Anda.Kemungkinan itu bukan isapan jempol belaka.

Hal itu pernah dialami oleh Howard Schultz, orang yang dianggap paling berjasa dalam membesarkan kedai kopi, Starbucks. "Secangkir kopi satu setengah dolar? Gila! Siapa yang mau? Orang-orang Amerika tidak akan pernah mengeluarkan satu setengah dolar untuk kopi," itulah salah satu cemooh yang diterima Howard, saat menelurkan ide untuk mengubah konsep penjualan Starbucks.

Dalam buku Pour Your Heart Into It; Howard menceritakan bagaimana ia merintis cangkir demi cangkir kopi dan menjadikan Starbucks sebagai kedai kopi dengan jaringan terbesar di seluruh dunia.

Awalnya, Howard adalah seorang general manager di sebuah perusahaan bernama Hammarplast. Suatu kali, ia datang ke Starbucks yang pada awalnya hanyalah toko kecil pengecer biji-biji kopi yang sudah disangrai. Toko ini dimiliki oleh duo Jerry Baldwin dan Gordon Bowker sebagai pendiri awal Starbucks. Duo tersebut memang dikenal sangat getol mempelajari tentang kopi yang berkualitas. Melihat kegairahan mereka tentang kopi, Howard pun memutuskan bergabung dengan Starbucks, yang kala itu baru berusia 10 tahun. Ia segera dekat dengan Jerry Baldwin. Sayang, hal itu kurang berlaku dengan Gordon Bowker dan Steve, seorang investor Starbucks baru.  Meski begitu, Howard tetap berusaha beradaptasi dan mencoba mengenalkan berbagai ide pembaruan untuk membesarkan Starbucks.

Suatu ketika, Howard mempunyai ide cemerlang. Ia mendesak Jerry untuk mengubah Starbucks menjadi bar espresso dengan gaya Italia. Setelah perdebatan dan pertengkaran yang panjang, keduanya menemui jalan buntu. Jerry menolak karena meskipun idenya bagus, Starbucks sedang terjerumus dalam utang sehingga tidak akan mampu membiayai perubahan.

Howard pun lantas bertekad mendirikan perusahaan sendiri. Belajar dari Starbucks, ia tidak mau berutang dan memilih berjuang mencari investor. Dan, pilihan inilah yang kemudian membuatnya harus bekerja ekstra keras. Ditolak dan direndahkan menjadi bagian keseharian yang harus dihadapinya.

Tekad itu terwujud. Bahkan dengan uang yang terkumpul dari usahanya, ia berhasil membeli Starbucks dari pendirinya. Namun, kerja keras itu tak berhenti dengan terbelinya Starbucks. Saat terjadi akuisisi, ia mendapati banyak karyawan yang curiga dan memandang sinis perubahan yang dibawanya. Tetapi, dengan sistem kekeluargaan, ia merangkul karyawan dan bahkan memberikan opsi saham sehingga rasa kepemilikan karyawan terhadap perusahaan makin tinggi.

Kini, Howard berhasil mengembangkan Starbucks hingga puluhan ribu cabang di seluruh dunia. Ia juga menekankan layanan dengan keramahan pada konsumen. Selain itu, Howard memperlakukan karyawan sebagai keluarga. Dengan cara itu, Howard terus berekspansi hingga menjadi kedai kopi terbesar di dunia. (sumber)


Baca Artikel Pebisnis Internasional Lainnya di Ayopreneur.com

Selasa, 13 Desember 2016

Warren Buffet, Maestro Investasi dari Omaha

Warren Buffet, Maestro Investasi dari Omaha



Warren Edward Buffett merupakan orang yang disegani di Amerika Serikat. Tahun ini, Forbes menempakan dia di urutan kedua orang terkaya dunia dengan kekayaan US$ 37 miliar.

Pria kelahiran 30 Agustus 1930 itu dijuluki Oracle of Omaha. Buffett telah mengumpulkan kekayaan yang sangat besar dari kecerdikannya berinvestasi melalui perusahaan yang dipimpinnya, Berkshire Hathaway.

Insting investor Buffet terlihat sejak dia masih bocah. Dia kali pertama membeli saham untuk investasi pada saat berusia 11 tahun. Selain itu, Buffet juga dikenal sangat ulet. Jika anak-anak sebayanya sedang bermain, dia malah bekerja. Pada usia 17 tahun dia berhasil mendapatkan uang US$ 5.000 saat menjadi pengantar koran. Uang yang sangat besar di tahun 1947.

Cerita mengenai kejeniusan kakek ini sudah bertebaran di mana-mana. Begitu banyak buku yang membahas investor kelas wahid ini. Langkah-langkah bisnisnya begitu mempesona dan cerdik sehingga ia selalu menjadi buruan para jurnalis bisnis. Nyaris, setiap langkah Buffet adalah langkah investasi, dengan membeli saham perusahaan.

Langkah strategis awal Buffet dimulai saat ia membeli saham perusahaan tekstil, Berkshire Hathaway pada 1962. Ia berhasil menjadi pemegang saham terbesar tiga tahun kemudian. Ia secara cerdik menginvestasikan uang “nganggur” perusahaan.

Ia mulai membeli perusahaan asuransi, perusahaan permata, utilitas, dan makanan melalui Berkshire. Lewat perusahaan ini pula ia menguasai beberapa perusahaan kelas dunia seperti Coca Cola, WellsFargo dan Kraft Food. Baru-baru ini, ia mengakuisisi perusahaan manufaktur dan jasa, Momon Holding sebesar US$ 4,5 miliar. (sumber)

Baca Artikel Pebisnis Internasional Lainnya di Ayopreneur.com